Senin, 06 September 2010

Husein Muhammad: Ketika Hasrat Rendah dan Sesaat Diumbar

PUASA sepenuhnya merupakan momen spiritual dan cara pengabdian kepada Allah SWT yang paling eksklusif. "Semua tindakan manusia dapat diidentifikasi dan dinilai manusia, kecuali puasa. Untuk tindakan pengabdian itu, Akulah yang menilai," demikian nabi menyampaikan kata-kata Allah.
Momen istimewa tersebut diselenggarakan sebulan. Hari-hari selama itu disediakan Allah bagi mereka yang percaya untuk merenung dan berkontemplasi atas apa yang telah ditempuh dalam perjalanan hidup. Sesudah itu, manusia diharapkan tampil lagi sebagai pribadi-pribadi yang berguna bagi kemanusiaan. Momen spiritual yang amat eksklusif tersebut sesungguhnya tidak hanya diajarkan oleh Islam, tapi juga agama-agama dan kepercayaan lain melalui tata cara masing-masing.

Sejak awal, Allah menaruh kepercayaan pengaturan kehidupan dunia kepada manusia. Dia berharap manusia bisa membangun kehidupan bersama yang saling menghormati dan menyejahterakan. Untuk keperluan itu, Allah membekali manusia dengan seluruh perangkat yang memungkinkan mereka bisa mengerjakan semua tugas kemanusiaan tersebut dengan sebaik-baiknya. Allah memberi manusia akal untuk memikirkan, hati untuk mengalami, dan hasrat untuk menggerakkan. Tiga perangkat yang bersifat spiritual itu secara genuine diciptakan dalam keadaan suci dan baik.

Tetapi, manusia sering menjadi makhluk yang lemah dan bodoh. Manusia sering lalai serta mudah tergoda, terperangkap, dan tergelincir ke tindakan-tindakan yang menyimpang, merendahkan, mendiskriminasi, maupun menzalimi orang lain. Manusia juga mudah tertarik dan tertipu terhadap hasrat-hasrat yang rendah dan sesaat (duniawi), yakni memuja harta, jabatan, seks, golongan sendiri, keturunan, dan sebagainya. Hasrat-hasrat diri itu telah melalaikan, memperdaya, menindas, dan tak menghargai orang lain. Manusia juga acap tak mampu mengendalikan hasrat-hasrat tersebut.

Lihat hari-hari ini di negeri ini. Kita belum selesai menyaksikan kisah-kisah penderitaan manusia, hamba-hamba Allah. Sebagian besar masyarakat masih menderita dan terlunta-lunta karena kelaparan, kemiskinan, dan ketidakmengertian. Hari-hari ini kita juga menyaksikan beragam tindakan manusia yang melukai sesama dalam rumah sendiri maupun di ruang bersama. Berapa banyak sudah kaum perempuan, para istri dan anak, orang-orang yang paling dicintai, terluka. Baik tubuh maupun hatinya. Ada ratusan ribu perempuan korban kekerasan dalam rumah. Sering mereka dilukai karena mereka perempuan. Berapa banyak buruh dan pekerja kasar yang tak memperoleh hak karena dianggap lemah. Mereka seakan-akan manusia tak berharga dan boleh diperlakukan sesuka hati.

Pada saat lain, kita juga menyaksikan rumah-rumah tempat Tuhan diagungkan dan dimuliakan dirusak serta dihancurkan hanya karena mereka dianggap kecil dalam komunitas. Berhari-hari kita membaca betapa banyak hasil jerih payah dan keringat orang-orang lemah diambil begitu saja secara terang-terangan maupun diam-diam hanya karena mereka dianggap tak tahu dan tak penting. Betapa manusia, ciptaan Tuhan yang terhormat itu, kini mengalami situasi kejiwaan yang rusak, terbelah, dan menyimpang.

Puasa adalah momen permenungan diri atas hasrat-hasrat yang rendah dan sesaat itu sekaligus memulihkannya. Pembiaran hasrat-hasrat rendah yang tak terkendali selalu akan melahirkan malapetaka sosial dan kemanusiaan.

Islam dan agama-agama lain berpendirian kehidupan yang adil dan sejahtera di dunia ini tak mungkin terwujud apabila orang-orang lemah tidak mendapatkan perhatian, layanan, dan perlakuan adil dari masyarakat yang berada dan kuat. Para fakir, kaum miskin, dan perempuan, selain hamba-hamba Tuhan, sejatinya adalah sendi dan tulang punggung kekuatan suatu masyarakat. Betapa banyak kehidupan kita bergantung kepada mereka. Kita tidak mungkin bisa hidup tanpa mereka. "Innamâ tunsharûn wa turzaqûna bi dhu'afâikum (Sesungguhnya kalian ditolong dan diberi rezeki oleh orang-orang yang lemah di antara kalian)," kata nabi yang mulia. Hak-hak mereka yang dimarginalkan karena kecil atau dianggap kecil (minoritas) tetap saja harus dihargai. Baik hak hidup maupun mengabdi, mengagungkan dan memuliakan Tuhan, apa pun nama-Nya. Sebab, tubuh dan roh mereka milik Tuhan. Pesan-pesan agama tersebut diarahkan dalam kerangka besar kehidupan bersama yang adil. Dalam dunia yang adil, setiap warga mendapatkan hak yang sesuai dengan kewajiban yang dibebankan.

Puasa sebentar lagi berakhir. Bagi mereka yang jiwanya tercerahkan, sepuluh hari terakhir merupakan hari-hari paling mendebarkan. Kekasih sebentar lagi pergi. Kandil-kandil yang berkedip menghiasi masjid, khanaqah, atau zawiyah pada dini hari akan diredupkan. Ruang-ruang tempat sujud itu bakal menjadi temaram. Para malaikat akan turun dan hadir di masjid, beribadah dan mendoakan ampunan serta rahmat bagi orang-orang yang mencintai seluruh ciptaan Tuhan. Jiwa-jiwa yang tercerahkan segera bergabung. Permenungan mereka semakin dalam. Mereka mendesah:

Akan berapa sering lagi kau berenang di lautan salah?

Kau tontonkan itu ke hadapan Dia Yang Melihatmu,

dan kau tak melihat-Nya.

Sering kau tampil bagai orang saleh dan bersih.

Tapi, lakumu penuh hasrat rendah.

Kembalilah kepada-Nya sebelum kau pulang,

sebelum hari hamba menjumpai kerja-kerjanya kemarin.

Cirebon, 30 Agustus 2010

Husein Muhammad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar